Karena bukanlah cinta namanya bila statis seperti gurun, bukan pula cinta namanya bila menjelajah bumi seperti angin. Dan bukan cinta namanya bila melihat semuanya dari kejauhan, seperti matahari. ***
Ketika dia menatap mata hitam gadis itu, dan melihat bibirnya bersikap antara tertawa dan diam, dia mengerti bagian terpenting dari bahasa yang digunakan oleh seluruh dunia – bahasa yang bisa dipahami oleh setiap orang di bumi dengan hati mereka. Itulah cinta. Sesuatu yang lebih tua dari umat manusia, lebih purba dari gurun.
Ia tidak membutuhkan penjelasan, sebagaimana alam semesta tak memerlukan apa-pun saat berjalan melewati waktu yang tiada akhir.
Jika kita memahami bahasa itu, mudahlah untuk mengerti bahwa seseorang di dunia menanti kita, entah di tengah gurun atau di kota besar. Dan saat dua orang itu berjumpa, dan mata mereka bertemu, masa lalu dan masa depan menjadi tak penting. Yang ada hanyalah momen itu, dan kepastian yang ajaib bahwa segala yang ada di langit dan di bumi telah dituliskan oleh tangan yang esa. Itulah tangan yang menimbulkan cinta, dan menciptakan suatu jiwa kembar bagi setiap orang di dunia. Tanpa cinta seperti itu, impian-impian seseorang akan tak bermakna. Maktub...
Bila kau dicintai, kau dapat melakukan apapun untuk berkreasi. Bila kau dicintai, sama sekali tak perlu memahami apa yang sedang terjadi, karena semuanya terjadi di dalam dirimu ***
Sepenuhnya aku, akan terus menunggu, menanti sebuah jawaban tuk memilikimu...
Tulisan ini aku tulis untuk mu, anis kaulah yang benar2 aku cintai, meski semua terkesan kaku dan hampa aku benar2 mencintaimu. tak pernah ku rasakan rasa yang begitu dalam selain kepadamu, tapi sekarang kau telah menjadi milik nya, sampai kapan kau dapat ku miliki seutuhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar